Perasaan

      Masih terpatri jelas dalam otakku saat kau mengatakannya. Lebih tepatnya saat kau mengirimkan sederet kalimat yang menyatakan bahwa kau menyukaiku. Melalui pesan-pesan berirama yang membuat siapapun akan tersenyum bahagia membacanya.
      Saat itu, aku hanya tertawa, bahkan sedikit tidak memperdulikannya. Aku belum sadar atas apa yang kurasa, semuanya belum jelas. Perasaan itu belum tumbuh besar, baru saja menjadi tunas yang tak terlalu nampak. Lalu kau bantu merawatnya.
      Dengan siraman perhatian.
      Dengan pupuk pengharapan.
      Dirawat oleh sentuhan lembut kasih sayang.
      Tiba-tiba, aku harus pergi jauh darimu. Aku tetap menjaga perasaan yang telah merambat kemana-mana. Menunggu agar bisa dirawat olehmu lagi. Tapi sayang, itu tak mungkin terjadi. Kau sudah merawat perasaan yang lain, dan mengabaikan rasa milikku. Dengan sengaja kau memotongnya, mencabutnya, dan menginjak-injaknya. Aku bisa apa? Ketika kau berupaya menghancurkannya, tapi ia tumbuh menjadi lebih liar lagi. Maka, kau mulai acuh. Hingga aku yang dengan sabar harus perlahan meracuninya, meracuni perasaan yang telah aku rawat dan jaga.

Yogyakarta, 16 Februari 2016
Asrama Siti Aisyah Timur

Komentar

Postingan Populer